Suara langkah kaki berat dan teriakan perintah mulai terdengar. Pasukan Monrest, dengan jumlah ribuan, mulai memasuki lembah sempit. Mereka bergerak seperti arus sungai yang deras, mengisi seluruh ruang di bawah.

Narendra dan Arkha berjongkok mengamati pasukan Monrest yang bergerak masuk ke lembah. Suara derap kaki ribuan prajurit dan raungan makhluk mutasi menggema di antara tebing-tebing tinggi. Pasukan Monrest tampak seperti arus sungai yang tak terhentikan.

“Lihat jumlah mereka,” bisik Narendra, matanya terus mengawasi. “Mereka membawa lebih banyak mahkluk mutasi kali ini.”

Arkha mengangguk, suaranya rendah namun mantap. “Kita hanya perlu memastikan jebakan ini berhasil. Jika batu-batu itu tepat menghantam mereka, kita bisa mengurangi jumlah mereka secara signifikan sebelum pertempuran sebenarnya dimulai.”

Narendra memberi isyarat kepada anak buahnya yang berjaga di sepanjang tebing. “Bersiaplah. Tunggu aba-abaku.”

"Siap!" bisik Narendra kepada anak buahnya. Dia mengangkat tangan, memberi isyarat untuk menunggu.

Suara langkah kaki semakin mendekat. Pasukan Monrest mulai memenuhi jalur sempit lembah. Makhluk mutasi besar, dengan tubuh bersisik dan mata merah menyala, bergerak di barisan depan, melindungi prajurit yang berada di tengah.

“Pastikan batu-batu besar itu tepat mengenai mereka,” ujar Narendra lagi, kali ini kepada seorang prajurit muda di sebelahnya. “Jangan gegabah.”

Prajurit itu mengangguk, tangannya sedikit gemetar memegang pengungkit jebakan.

Ketika pasukan Monrest sudah memenuhi lembah, Narendra mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Semua prajurit yang berjaga di tebing atas menahan napas, menunggu isyarat.

“Sekarang!” teriak Narendra, menurunkan tangannya dengan cepat.

BRAK!

Batuan besar berjatuhan dari atas, menghantam pasukan Monrest yang bergerak di bawah. Jeritan panik terdengar di seluruh lembah ketika batu-batu itu menghancurkan barisan depan mereka. Jeritan panik langsung terdengar ketika batu-batu itu menghancurkan barisan depan mereka. Prajurit Monrest yang berada di jalur terdepan terhimpit, sementara makhluk mutasi berusaha melindungi diri mereka dengan tubuh besar mereka, namun tetap tidak mampu menghindar dari serangan mendadak itu. Ratusan pasukan Monrest tewas seketika, dan sebagian besar lainnya terjebak dalam kekacauan.

"Jebakan, menghindar!" terdengar teriakan dari kerumunan musuh yang panik melihat batu-batu besar berjatuhan.

Batu-batuan berikutnya bergulir dengan cepat, menghantam barisan tengah pasukan. Kekacauan terjadi di lembah sempit itu.

“Jebakan! Mundur!” teriak salah satu pimpinan regu Monrest, namun jalan sempit dan kepadatan pasukan membuat mereka sulit bergerak.

Suara panik, teriakan kesakitan, dan berbagai suara datang dari bawah lembah. Mereka berusaha menghindar, namun jumlah mereka yang banyak dan jalan yang sempit membuat mereka kesulitan menghindar dan tertimpa batu-batu besar dari atas.

"Berani-beraninya kalian menjebak kami!" kata Rayden dengan gusar.

Makhluk-makhluk mutasi yang mengiringi mereka meraung, mencoba melindungi sisa pasukan dengan tubuh besar mereka. Namun, batu-batu terus menghantam, membuat mereka mundur untuk menyelamatkan diri. "Mundur!" teriak Rayden.

"Bagus! Teruskan!" seru Narendra kepada pasukannya. Mereka melanjutkan meluncurkan batu-batu yang tersisa, memaksimalkan kekacauan di lembah.

Leena lalu memberikan arahan kepada pasukan panah, "Tembak!"

Suara desingan panah terdengar berterbangan di langit dan menyerang suku Monrest yang berusaha mundur. Puluhan suku Monrest mati terkena serangan panah, dan banyak yang terluka akibat serangan tersebut.

Setelah beberapa saat, sisa pasukan Monrest yang selamat mulai mundur. Mereka memilih untuk menarik diri ke posisi aman, berkumpul kembali di luar lembah untuk menyusun rencana baru.

"Pemimpin, pasukan kita sekitar tiga ratus orang menjadi korban jebakan tersebut, dan dua monster tewas, beberapa lainnya terluka," kata salah satu pasukan Monrest melaporkan kondisi mereka.

Rayden terdiam marah, merasa dipermalukan karena mengalami kekalahan besar sebelum bertempur. Dia tidak menduga jika pasukan Monrest yang dipimpinnya bisa berkurang banyak dalam sekejap. "Aku terlalu meremehkan mereka. Aku terlalu fokus hanya menyerang Lynx, tidak memperhatikan jika mereka akan menyiapkan jebakan seperti ini."

"Mundur dan cari area aman untuk bermalam. Kita akan pelajari dan cari kelemahan mereka," kata Rayden kepada salah satu pimpinan regunya.

"Rayden, bagaimana jika mereka menyerang kita di sini?" tanya pemimpin regu lainnya dengan cemas.

"Jika mereka menyerang kita, itu yang aku harapkan. Kita akan menghancurkan mereka saat mendekat. Tanpa mainan jebakan, mereka tidaklah berarti apa-apa," kata Rayden dengan marah.

Dengan keputusan itu, pasukan Monrest mulai mundur, mencari tempat yang lebih aman untuk beristirahat dan merencanakan langkah selanjutnya. Rayden, meskipun merasa marah dan terhina, tahu bahwa mereka harus merespons dengan strategis agar tidak terjebak dalam situasi yang sama lagi.

Maret, yang berjaga di Kampung Surya, menerima laporan dari salah satu penjaga yang kembali dari lembah. "Pasukan Monrest mundur sementara. Ratusan dari mereka tewas, dan mereka sedang mencoba merencanakan langkah berikutnya."

Sorak kecil terdengar dari para penduduk, tetapi Maret mengangkat tangannya untuk menghentikan mereka. "Ini hanya permulaan," katanya tegas. "Mereka pasti akan kembali dengan rencana yang lebih kuat. Kita harus tetap waspada."

Sementara itu, di lembah, Arkha dan Narendra mendekati Leena. "Kita sudah melakukan yang terbaik sejauh ini. Bagaimana rencana kita selanjutnya?"

Leena tersenyum kecil, meskipun ada kekhawatiran di matanya. "Jumlah mereka sudah banyak berkurang, tapi jumlah yang tersisa masih lebih banyak."

"Leena, aku tidak mahir pertempuran antar kelompok1 seperti ini, tapi menurutku, unsur kejutan saat musuh belum siap sangatlah penting. Kita harus segera menyerang mereka saat belum siap," kata Mochi.

"Kakek Mochi benar, Leena," terdengar sebuah suara di belakang mereka. Ternyata Kale datang bersama Karim. "Aku menyarankan kita menyerang mereka malam ini. Kita harus menghancurkan perbekalan mereka terlebih dahulu untuk melemahkan mereka."

"Kami juga sudah membawa ini," kata Karim, menunjukkan tabung berisi beberapa tanaman. "Nenek Drona memberikan tanaman ini, yang sudah dia persiapkan karena Lynx memintanya. Kita akan memberikan kejutan untuk mereka," kata Karim bersemangat.

Mochi menepuk bahu Leena. "Kami akan selalu mendukungmu."

Leena mengangguk, merasakan semangat timnya. "Baiklah, mari kita rencanakan serangan ini. Kita tidak boleh membiarkan kesempatan ini terlewat. Kita harus memanfaatkan semua yang kita miliki."

Malam harinya, bintang-bintang bersinar terang di langit malam saat Leena memanggil Narendra, Karim, dan Arkha ke sebuah tempat dekat lembah. Mereka mengadakan rapat kecil di tempat itu. Beberapa tetua suku dan kepala prajurit lainnya turut hadir, membentuk lingkaran di sekeliling Leena.

“Jebakan kita berhasil,” kata Narendra, wajahnya serius. “Ratusan pasukan Monrest mati, tapi mereka masih memiliki kekuatan besar. Kita harus bersiap untuk serangan balik.”

"Apakah kalian sudah meletakkan mata-mata di sekitar suku Monrest?" tanya Leena, memastikan tidak ada pasukan musuh yang diam-diam menyelinap dan mengetahui kondisi mereka.

"Beberapa mata-mata sudah kita tempatkan untuk memantau aktivitas mereka. Selain itu, Kael juga sudah bersiaga dengan senjata lasernya jika mereka melepaskan makhluk mutasi." Arkha memberi tahu kondisi musuh berdasarkan informasi terbaru dan membuka peta untuk merencanakan gerakan mereka selanjutnya.

"Mata-mata memberi informasi perkemahan musuh seperti ini, mereka tidak dapat terlaku mendekat karena ada makhluk mutasi yang berada di titik ini," kata Arkha sambil menggambarkan lokasi-lokasi penting yang ada di perkemahan musuh.

"Kita harus dapat menghancurkan titik ini. Perbekalan mereka harus kita hancurkan untuk melemahkan mereka," kata Leena, menunjuk sebuah titik di peta.

"Aku setuju dengan ide itu. Apa rencana yang sudah kamu siapkan? Kami siap membantu," kata Raka sambil memandang para tetua lainnya. Mereka sudah siap bertarung, mempertaruhkan hidup mereka melawan suku Monrest. Mereka tidak lagi ingin ditindas; ini kesempatan untuk mulai berjuang demi masa depan yang lebih baik.

Leena memikirkan sejenak berbagai rencana dan masukan yang telah dia terima sebelum pertemuan. Setelah mempelajari situasi dan kondisi, Leena berusaha memilih strategi yang tepat. Dia tidak boleh salah mengambil keputusan karena itu akan berdampak pada ribuan masyarakat yang ada di suku Surya.

Kedatangan Raka bersama para tetua dan rombongan membawa ketapel raksasa dan gentong minyak. Mereka membawanya karena instruksi Kael kepada para penjaga sebelum dia menyusul Leena.

"Arkha, saatnya kita menguji ketapel raksasa kita. Aku ingin kamu lemparkan gentong minyak yang sudah dikumpulkan menggunakan ketapel tepat ke arah perbekalan mereka. Lemparkan semua gentong yang ada ke arah mereka dari tempat perbekalan hingga sekitarnya," Leena mulai membagi-bagi tugas. "Karim, tugasmu menembakkan panah api ke arah minyak yang dilemparkan agar tempat itu terbakar habis."

Leena lalu memandang Narendra, "Ajak beberapa anggota untuk menembakkan tanaman ungu ke arah api agar membuat mereka berhalusinasi. Jangan lupa, berikan kode kepada yang lain untuk menghindari asap."


